Rabu, 16 Maret 2016

makalah bahasa indonesia surat resmi

KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Penyakit Trikomoniasis” guna melengkapi tugas praktikkum Parasitologi. Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam peyusunan makalah ini, karena kami menyadari tanpa bantuan mereka penyusunan makalah ini tidak dapat berjalan dengan baik. Pada kesempatan ini pula saya mohon maaf apabila isi dari makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik itu materi ataupun pembahasan yang saya sampaikan, karena kami menyadari masih banyak kekurangan. Saya harap kritikan dan saran dari pembaca untuk memperbaikan dalam penulisan selanjutnya. Yogyakarta, 2 Desember 2015 Penulis   DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II PEMBAHASAN 3 BAB III PENUTUP 13 DAFTAR PUSTAKA 14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Trichomoniasis (biasanya disebut sebagai “trich”) adalah penyakit menular seksual yang paling umum dapat disembuhkan di dunia. Penyakit ini juga merupakan salah satu dari tiga infeksi vagina yang paling umum pada wanita. Trikomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis atau tricomonad. Trichomonas vaginalis memiliki ukuran yang bervariasi antara 5-20 ┬Ám. Organisme hidup dapat dikenali dengan gerakkannya, yang telah digambarkan seperti menyentak, berayun atau berjatuhan. Trichomonas vaginalis adalah anaerobik dan tumbuh baik tanpa oksigen, di lingkungan dengan keasaman rendah. Pertumbuhan maksimum dan fungsi mentabolik dicapai pada pH 6,0. Reproduksi Trichmonas vaginalis dengan pembelahan biner, tidak seperti kebanyakan protozoa patogen, kista Trichomonas vaginalis tidak terbentuk. Trichomonas vaginalis merupakan protozoa patogen dengan derajat tertentu yang sebagian besar menyerang wanita pada traktus urogenitalis bagian bawah. Infeksi ini mungkin bergejala atau mungkin tidak bergejala dan merupakan infeksi menular seksual. B. Rumusan Masalah 1. Mengetahui pengertian dan sejarah penyakit Trichomoniasis 2. Mengetahui morfologi, tanda dan gejala dari penyakit Trichomoniasis 3. Mengetahui fisiologi dan patogenitasnya 4. Mengetahui cara pencegahan dan pemeriksaannya.   BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronis dan merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Parasit ini paling sering menyerang wanita, namun pria dapat terinfeksi dan menularkan ke pasangannya lewat kontak seksual. Vagina merupakan tempat infeksi paling sering pada wanita, sedangkan uretra (saluran kemih) merupakan tempat infeksi paling sering pada pria. Klasifikasi : Class : Flagellata Family : Trichomonadidae Genus : Trichomonas Speciees : Trichomonas vaginalis B. Sejarah dan Penyebaran Spesies parasit ini ditemukan pertama kali oleh Donne 1836 pada sekresi purulen dari vagina wanita dan sekresi traktus urogenital pria. Pada tahun 1837, protozoa ini dinamakan Trichomonas vaginalis. Parasit ini bersifat cosmopolitan ditemukan pada saluran reproduksi pria dan wanita. Penyebab terjadinya keputihan pada wanita. Biasa disebut leukorrhoe atau flour albus. C. Morfologi Morfologi Trichomonas vaginalis meliputi: 1. Berbentuk flagelata filiformis, tidak berwarna. 2. Tidak mempunyai bentuk kista. Bentuk trofozoid berukuran 7 – 25 mikron 3. Mempunyai 4 flagel anterior dan 1 flagel posterior yg melekat pada tepi membrane yang bergelombang. 4. Parasit hidup di mukosa vagina dengan makan bakteri, sel-sel vagina dan leukosit. 5. Habitat Wanita : vagina, uretra Pria : uretra, epididimis, prostat 6. Diluar habitatnya parasit mati pada suhu 50oC, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 0oC. 7. Sitoplasmanya bergranula dimana granula tersebut pada umumnya terletak di sekitar custa dan axostyle 8. Sitostoma tidak ada 9. Berkembang biak dengan longitudinal binary fission. 10. T. vaginalis bergerak dengan cepat berputar – putar di antara sel epitel dan leukosit dengan menggerakkan flagel anterior dan membrane gelombang. 11. Trichomonas Vaginalis hanya dapat hidup pada pH > 5,5 – 7,5. Pada biakan parasit mati pada pH < 4,9. Ini sebabnya parasit tidak dapat hidup di secret vagina yang asam (pH 3,8 – 4,4). 12. Infeksi terjadi secara langsung waktu bersetubuh melalui bentuk Trofozoid. D. Tanda dan Gejala 1. Pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina. 2. Pada kasus akut terlihat : a. Disini cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental, berbusa, dan berbau. Trichomonas vaginalis menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial. b. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab (Strawberry Appearance) c. Perdarahan kecil – kecil pada permukaan serviks. d. Didapatkan rasa gatal dan panas di vagina. e. Dysuria f. Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual (dispareunia) mungkin juga merupakan keluhan utama yang dirasakan penderita dengan trikomoniasis. g. Dapat juga mengalami perdarahan pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah. h. Bila sekret banyak yang keluar, dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar bibir vagina. 3. Pada kasus yang kronis, gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa. 4. Pada pria biasanya tidak memberikan gejala. Kalaupun ada, pada umumnya gejala lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Gejalanya antara lain : a. iritasi di dalam penis b. keluar cairan keruh namun tidak banyak c. rasa panas dan nyeri setelah berkemih atau setelah ejakulasi. E. Fisiologi Vagina memiliki mekanisme perlindungan terhadap infeksi. Kelenjar pada vagina dan serviks / leher rahim menghasilkan sekret yang berfungsi sebagai sistem perlindungan alami dan sebagai lubrikan mengurangi gesekan dinding vagina saat berjalan & saat berhubungan seksual. Jumlah sekret yang dihasilkan tergantung dari masing-masing wanita. Dalam keadaan normal, kadang jumlah sekret dapat meningkat seperti saat menjelang ovulasi, stres emosional dan saat terangsang secara seksual. Selain itu, terdapat flora normal basil doderlein yang berfungsi dalam keseimbangan ekosistem pada vagina sekaligus membuat lingkungan bersifat asam (pH 3.8-4.5) sehingga memiliki daya proteksi yang kuat terhadap infeksi. Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri pathogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus (Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. F. Patogenesis Dasar Kelainan: Infiltrasi sejumlah besar trofozoit trichomonas vaginalis sehingga dapat merusak epitel vagina secara kontak langsung dan oleh daya toksisitasnya. Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis. T. vaginalis menginfeksi sel epitel vagina sehingga terjadi proses kematian sel pejamu (host-cell death). Komponen yang berperan dalam proses kematian sel tersebut adalah mikrofilamen dari T. vaginalis. Selama proses invasi, T.vaginalis tidak hanya merusak sel epitel namun eritrosit. Eritrosit mengandung kolesterol esensial dan asam lemak yang diperlu¬kan bagi pembentukan membran trichomonad, baik sel epitel maupun eritrosit juga merupakan sumber zat besi. Proses pengikatan dan pengenalan trichomonad dengan sel epitel pejamu melibatkan minimal 4 protein permukaan spesifik T.vaginalis, yang dikenal dengan sistein proteinase, setelah proses pengikatan, akan timbul reaksi kaskade yang mengakibatkan sitotoksisitas dan hemolisis pada sel, kemudian menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan sub epitel . Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Kasus yang lanjut terdapat bagian–bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan sub epitel yang menjalar sampai ke permukaan epitel, didalam vagina dan uretra parasit hidup di sisa-sisa sel ,kuman-kuman,dan benda- benda lain yang terdapat dalam sekret. G. Diagnosis Banding Beberapa penyakit yang menggambarkan keadaan klinik yang mirip dengan trikomoniasis, antara lain: 1. Trikomoniasis Trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, biasanya penyakit ini tidak bergejala tapi pada beberapa keadaan trikomoniasis akan menunjukkan gejala. Terdapat dua tubuh vagina berwarna kuning kehijauan, berbusa dan berbau. Eritem dan edem pada vulva, juga vagina dan serviks pada beberapa perempuan serta pruritos, disuria, dan dispareunia. Pemeriksaan apusan vagina Trikomoniasis sering sangat menyerupai penampakan pemeriksaan apusan bakterial vaginosis. Akan tetapi, Mobilincus dan clue cell tidak pernah ditemukan pada Trikomoniasis. Pemeriksaan mikroskopoik tampak peningkatan sel polimorfonuklear dan dengan pemeriksaan preparat basah ditemukan protozoa untuk diagnosis. Whiff test dapat positif pada trikomoniasis dan pH vagina 5 pada trikomoniasis. Klinis : Terdapat flour albus yang banyak dengan warna putih kehijauan-hijauan, berbau lumut serta berbuih, gatal pada vagina kadang-kadang sampai ke paha, dinding vagina terdapat banyak ulkus, edematous, dan eritem 2. Kandidiasis Kandidiasis merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans atau kadang Candida yang lain. Gejala yang awalnya muncul pada kandidiasis adalah pruritus akut dan keputihan. Keputihan seringkali tidak ada dan hanya sedikit. Kadang dijumpai gambaran khas berupa vaginal thrush yaitu bercak putih yang terdiri dari gumpalan jamur, jaringan nekrosis epitel yang menempel pada vagina, dapat juga disertai rasa sakit pada vagina iritasi, rasa panas dan sakit saat berkemih. Pada pemeriksaan mikroskopik, sekret vagina ditambah KOH 10% berguna untuk mendeteksi hifa dan spora Candida. Keluhan yang paling sering pada kandidiasis adalah gatal dan iritasi vagina. Sekret vagina biasanya putih dan tebal, tanpa bau dan pH normal. Klinis : discharge banyak, berwarna putih, kental seperti susu pecah, kadang berbau ,kadang tidak berbau, pada vulva dan vagina terdapat tanda-tanda radang disertai maserasi, pseudomembran, fisura, lesi satelit papulopustular. Labia mayor tampak bengkak, merah dan ditutupi oleh lapisan putih yang menunjukkan maserasi. 3. Bakterial Vaginosis Kriteria klinis untuk bakterial vaginosis yang sering disebut sebagai kriteria, terdapat tiga dari empat gejala, yaitu : a. Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina dan abnormal b. pH vagina > 4,5 (dites dengan nitrazine paper). c. Tes amin yang positif, yang mana sekret vagina yang berbau amis sebelum atau setelah penambahan KOH 10% (Whiff test). d. Adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari seluruh epitel). Clue cells merupakan sel epitel vagina granular yang diliputi oleh ko¬ko¬ba¬sil sehingga batas sel tidak jelas. e. Ditemukannya T. vaginalis sebagai flora vagina utama menggantikan laktobasilus Klinis : Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina, sekret berbau amis, tidak ditemukan adanya peradangan pada vagina dan vulva. H. Diagnosis 1. Anamnesis 2. Pemeriksaan Fisik 3. Pemeriksaan Spekulum Pemeriksaan spekulum untuk menginspeksi vagina dan serviks secara langsung. Ada beberapa macam, speculum metal cusco, atau bivalve adalah yang paling popular. Speculum ini terdiri dari dua daun yang dimasukkan dalam keadaan tertutup, dan kemudian dibuka dengan menekan pegangannya. 2 macam speculum dua daun yaitu : a. Graves (speculum cocor bebek), speculum yang lebih umum digunakan. Daun – daunnya lebih lebar dan melengkung pada sisinya. b. Pedersen, mempunyai daun yang lebih sempit dan rata, dipakai untuk wanita dengan introitus kecil. Teknik Penggunaan : 1) pasien dibaringkan dalam posisi litotomi 2) cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir 3) keringkan tangan dengan handuk bersih 4) gunakan sarung tangan dengan benar 5) bersihkan vulva dan perineum dengan kasa kering 6) ambil spekulum cocor bebek (sesuaikan dengan ukuran yang dibutuhkan) dengan tangan kanan dan masukkan ke dalam introitus vagina dengan posisi lebar spekulum pada sumbu vertikal (anteroposterior) 7) Pemeriksa menggunakan jari telunjuk dan tengah kiri untuk memisahkan labia dan menekan perineum, speculum yang masih tertutup, dengan dipegang oleh tangan kanan pemeriksa dimasukkan secara miring dengan perlahan-lahan kr dalam introitus diatas jari-jari tangan kiri. Speculum tidak boleh di masukkan secara vertical, karena dapat timbul sedera pada uretra/meatus. 8) Spekulum dimasukkan sejauh mungkin kedalam vagina,kalau sudah masuk dengan lengkap, speculum diputar ke posisi transversal, dengan peganganya sekarang mengarah ke bawah, dan dibuka secara perlahan-lahan. 9) Dinding vagina dan serviks dapat divisualisasikan adanya : a) secret, eritema, erosi, ulserasi, leukoplakia, atau massa. b) Apa bentuk orifisium externum servisis? c) Apa warna serviks? d) Pemeriksaan Laboratorium I. Pemeriksaan Penunjang 1. pH vagina Menentukan pH vagina dengan mengambil apusan yang berisi sekret vagina pada kertas pH dengan range 3,5 –5,5. pH yang lebih dari 4,5 dapat disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dan bacterial vaginosis. 2. Apusan basah/Wet mount Apusan basah dapat digunakan untuk identifikasi dari flagel, pergerakan dan bentuk teardrop dari protozoa dan untuk identifikasi sel. Tingkat sensitivitasnya 40–60 %, tingkat spesifiknya mendekati 100% jika dilakukan dengan segera. 3. Pap Smear Tingkat sensitivitasnya 40 – 60 %. Spesifikasinya mendekati 95–99%. 4. Test Whiff Tes ini digunakan untuk menunjukkan adanya amina-amina dengan menambahkan Potassium hidroksid ke sampel yang diambil dari vagina dan untuk mengetahui bau yang tidak sedap. 5. Kultur Dari penelitian Walner – Hanssen dkk, dari insiden Trikomoniasis dapat deteksi dengan kultur dan tidak dapat dideteksi dengan Pap Smear atau apusan basah.Kebanyakan dokter tidak mengadakan kultur dari sekresi vagina secara rutin. 6. Direct Imunfluorescence assay Cara ini lebih sensitive daripada apusan basah, tapi kurang sensitive dibanding kultur. Cara ini dilakukan untuk mendiagnosa secara cepat tapi memerlukan ahli yang terlatih dan mikroskop fluoresesensi. 7. Polimerase Chain Reaction. Cara ini telah dibuktikan merupakan cara yang cepat mendeteksi Trichomonas vaginalis. J. Pengobatan Pengobatan dapat topical maupun sistemik: 1. Topikal a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrokarbon peroksida 1-2% dan larutan asam laktat. b. Bahan berupa suposituria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal. c. Gel atau krim yang bersifat trikomoniasidal 2. Sistemik Golongan obat Nitromidazol seperti : a. Metronidazol : dosis tunggal 2gr atau 3 x 500mg/hari selama 7 hari. b. Nimorazol : dosis tunggal 2gr c. Tinidazol : dosis tunggal 2gr d. Omidazol : dosis tunggal 1.5 gr e. Anjuran pada waktu pengobatan 1) Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah terjadinya infeksi pingpong. 2) Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh. 3) Hindari barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi. f. Rejimen yang dianjurkan Metronidazol 2 g dosis tunggal, peroral. Pengobatan ini sangat efektif dengan angka keberhasilan antara 82- 90%. Pengobatan juga diberikan kepada pasangan seksualnya dengan rejimen yang sama. Jika pasangan seksual-nya diobati bersama-sama maka angka kesembuhan melebihi 95%. Angka reinfeksi 16-25% terjadi jika pasangan seksualnya tidak diobati. Penderita dan pasangan seksualnya dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual hingga dinyatakan sembuh Rejimen alternatif. Metronidazol 500 mg, 2 kali sehari selama 7 hari. Rejimen ini dianjurkan untuk penderita yang tidak sembuh dengan pengobatan dosis tunggal. g. Metronidazol 2 g dosis tunggal selama 3-5 hari. Di- anjurkan untuk penderita yang gagal dengan pengobatan ulangan. Rejimen metronidazol multidosis selama 7 hari sangat efektif untuk penderita pria. h. Metronidazol 250 mg, 3 kali sehari selama 7 hari i. Metronidazol 1 g, 2 kali sehari selama 1-2 hari j. Fenobarbital dan kortikosteroid akan menurunkan kadar metronidazol plasma dan akan menurunkan aktifitas metronidazol terhadap Trichomonas vaginalis, sedangkan cimetidine akan menaikan kadar metronidazol plasma. Kasus yang resisten secara klinis dapat diobati dengan dosis 2-4 g metronidazol selama 3-14 hari atau metronidazol 2 g peroral setiap hari disertai 500 mg yang diberikan intravagina K. Komplikasi 1. Infeksi pelvis. 2. Pada kehamilan dapat mennyebabkan bayi lahir premature dan bayi berat lahir rendah. 3. selulitis posthysterectomy. L. Pencegahan Karena trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual, cara terbaik menghindarinya adalah tidak melakukan hubungan seksual. Beberapa cara untuk mengurangi tertularnya penyakit ini antara lain: 1. Pemakaian kondom dapat mengurangi resiko tertularnya penyakit ini. 2. Tidak pinjam meminjam alat-alat pribadi seperti handuk karena parasit ini dapat hidup di luar tubuh manusia selama 45 menit. 3. Bersihkan diri sendiri segera setelah berenang di tempat pemandian umum.   BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronis dan merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Penyakit ini biasa menyerah wanita, yang menyebabkan keputihan. Pabila keputihan berlebih maka cairan keputihan sampai berwarna hijau dan bau serta gatal pada daerah kewanitaan. Banyak cara yang dilakukan untuk melakukan pemerikasaan dan diagnosis penyakit Trikomoniasis ini, salah satunya adalah pap smer untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Trichomonas vaginalis. Pengobatannya dengan mengosumsi obat-obatan yang dianjurkan oleh dokter, serta pola hiidup sehat yang juga sebagai awal untu pencegahan penyakit ini, terutama kebersihan daerah kewanitaan. A. Saran Saran saya kepada para pembaca adalah untuk menjaga kebersihan diri teruma kebersihan daerah intim, untuk mencegah terjadinya penyakit Trikomoniasis ini, karena efeknya sangat berbahaya untuk kesehatan.   DAFTAR PUSTAKA Abs. 2015. Waspadalah Ketika Keputihan Berubah Warna Menjadi Kehijauan. http://jabar.tribunnews.com. Diakses 21 Novemer 2015 jam 13.00 Zulkoni, A. 2011. Parasitologi untuk Keperawatan, Kesehatan Masyarakat dan Teknik Lingkungan.Yogyakarta: Nuha Medika.

Kamis, 17 Desember 2015

Bahaya Terlalu Banyak Tidur

Sulit tidur atau insomnia memang tidak baik untuk kesehatan. Tapi kalau kelebihan tidur, atau istilahnya oversleeping (disebut juga hipersomnia) ternyata juga tak baik untuk tubuh kita. Nah, apa saja penyebab seseorang terkena oversleeping atau hipersomnia? 1. Sleep apnea, jenis gangguan tidur di mana orang berhenti bernapas untuk sesaat ketika tidur dan dapat menyebabkan meningkatnya kebutuhan tidur karena membuat siklus tidur normal terganggu. Penderita akan merasa lelah dan lemas meski telah tidur selama 10 jam. Gangguan pernapasan mulai terjadi karena dinding tenggorokan cenderung berhenti beraktivitas, sementara individu sedang dalam kondisi bersantai (tidur). Akibatnya, aliran udara di dalam tubuh berhenti dan seketika individu tersebut terbangun untuk bernapas. 2. Narcolepsy, masalah neurologis yang menyebabkan tidur berlebihan. Narcolepsy memengaruhi bagian otak yang mengontrol dan mengatur tidur. Penderita (narcolepsy) gagal untuk mengidentifikasi dan membedakan waktu tidur dengan waktu untuk tetap terjaga. Penderita dapat tertidur di mana saja dan kapan saja. 3. Stres dan depresi. Dua hal ini memang harus dihindari karena dapat menyebabkan banyak gangguan kesehatan jiwa, juga mental, tak terkecuali oversleeping. 4. Kelelahan. Kelelahan akibat bekerja terlalu keras, gangguan tidur, kehamilan, atau kekurangan tidur merupakan salah satu penyebab utama oversleeping. Ketika merasa lelah, kamu cenderung memutuskan tidur lebih lama, bahkan lebih dari sembilan jam, untuk mencoba agar segar kembali. Lantas, apa saja dampaknya bagi kesehatan? 1. Diabetes. Penelitian menunjukkan, orang yang tidur lebih dari sembilan jam tiap malam berisiko 50 persen lebih besar terkena diabetes dibandingkan dengan mereka yang tidur tujuh jam per malam. Penelitian juga menemukan, oversleeping dapat mengindikasikan gangguan medis yang meningkatkan kemungkinan pengaruh diabetes. 2. Obesitas. Penelitian menunjukkan, mereka yang tidur selama 9-10 jam tiap malam 21 persen lebih mungkin mengalami obesitas daripada mereka yang hanya tidur selama 7-8 jam. 3. Sakit jantung. Sebuah penelitian menunjukkan, wanita yang tidur selama 9-11 jam tiap malam 38 persen lebih mungkin terkena penyakit jantung koroner. 4. Sakit kepala. Para peneliti meyakini, sakit kepala bisa merupakan efek dari oversleeping. Mereka yang tidur terlalu lama pada siang hari sering mengalami gangguan ketika hendak tidur pada malam harinya sehingga menyebabkan timbulnya sakit kepala pada keesokan hari. 5. Nyeri punggung. Ketika kamu berbaring di tempat tidur selama berjam-jam, sering kali timbul nyeri pada punggung. Orang yang menderita sakit punggung atau rentan terhadap sakit punggung pun dianjurkan dokter untuk tetap aktif bergerak, tidak sering berbaring atau tiduran. 6. Ini akibat paling parah: Kematian !!! Beberapa penelitian menemukan, orang yang tidur sembilan jam atau lebih tiap malam memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada mereka yang tidur tujuh hingga delapan jam per malam. Para peneliti berspekulasi, depresi dan rendahnya status sosial ekonomi (juga dikaitkan dengan tidur lebih lama) dapat dihubungkan dengan meningkatnya mortalitas (kematian). Jadi, bagaimana cara mengatasi oversleeping? Simak tipsnya: 1. Pilih nada atau suara alarm yang tepat. Memilih suara yang tepat penting artinya untuk mengembalikan kamu ke realitas, bahkan dari tidur yang paling dalam. 2. Jangan tergoda untuk tidur ringan atau snooze setelah terbangun. Hindarilah penggunaan tombol snooze pada alarm karena hanya akan mengacaukan jadwal alarm tidur kamu. 3. Pertahankan jadwal tidur secara teratur. Buatlah kebiasaan yang membuat tubuh kamu teratur untuk beristirahat dan kembali siap untuk beraktivitas pada hari berikutnya. Rencanakan program aktivitas hingga larut hanya pada saat kamu bebas dari tenggat pada keesokan harinya. 4. Berkonsultasi dengan dokter. Temuilah dokter jika kamu mengalami gejala oversleeping kronis. Hal itu penting untuk mengetahui gangguan atau penyakit yang menyebabkan kamu mengalami oversleeping.